Media Massa dan Demokrasi


Oleh: Ali Makki*

Menjelang Pilpres 9 Juli 2014 pemberitaan media massa tersita pada aktivitas dari para calon presiden dan calon wakil presiden 2014-2019, dengan penyajian berita yang kadang sudah tidak berimbang cenderung berpihak, membuat prinsip jurnalistik terkotori oleh kepentingan pemilik media yang nota bene adalah pemain politik sekaligus pendukung capres dan cawapres yang sedang berkompetitor.

Sebut saja sebuah stasiun televisi nasional, yang juragannya ketua dari sebuah partai yang merupakan supporter utama salah satu capres/cawapres, setiap hari menayangkan berita-berita yang mengarah pada simbolisasi pengkultusan terhadap capres dengan memblow-up berita-berita tendesiustik, dan secara tidak sadar rakyat sedang diarahkan ke ruang fanatisme yang kelabu dan realita palsu

Saya jadi teringat dengan teori yang sering digunakan oleh Nicollo Machiavelli, dalam bukunya Il Principle (Sang Pangeran) yang menunjukkan cara-cara memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, yang menggiring opini orang banyak dengan fanatisme berlebihan yang berakhir dengan kebencian atau penghacuran terhadap kelompok manusia yang berbeda dengan mereka

Tayangan thriller peristiwa kekerasan menjelang dan pasca reformasi, sebenarnya ini sudah melanggar kode etik jurnalistik yang menampilkan tayangan kekerasan yang bisa membuat masyarakat traumatis, adalah sesuatu jingle untuk menjatuhkan lawan politiknya, dengan menyembunyikan fakta dan data yang sesungguhnya dari tokoh yang mereka dukung

Kalau kita mau mempelajari teori prinsip komunis, maka cara-cara yang ditampilkan oleh TV swasta tersebut sangat idemtito sebagai rangkaian untuk meletakan dasar-dasar filosofi komunisme, seperti yang pernah ditulis oleh Karl Marx dalam bukunya Das Kapital, dengan memobilisasi orang banyak untuk mengagungkan atau membeci kelompok lainnya melalui citra yang dimunculkan pada orasi-orasi propaganda
Kini citra suatu sosok pemimpin atau calon pemimpin telah ditempatkan pada ruang yang tidak proporsional, dengan merekayasa image positif tokoh yang mereka dukung dengan menyimpan sisi negatifnya, sehingga setiap individu terkontaminasi untuk berpikiran rendah, dan melahirkan kebencian, ini disebabkan fanatisme yang membabi buta yang lahir dari saluran media massa

Memang, sebuah prinsip akan melahirkan kepentingan, dan kepentingan akan menentukan prioritas tindakan, sebagaimana Presiden Rusia, Putin, yang mengedepankan kepentingan politiknya, ketimbang 118 nyawa kru kapal selam nuklir Kursk, dia tidak meminta bantuan internasional dengan alasan, kerahasian strategis, Putin harus mengorbankan nyawa para prajurit sejatinya

Prinsip politik pasti akan memikirkan sesuatu yang bisa langsung memberikan keuntungan secara politis, sebaliknya orang yang berprinsip pada persaingan akan memprioritaskan sesuatu yang bisa menjatuhkan pesaingnya, dengan cara bagaimana pun dan dengan cara apa pun

Semestinya politik yang mengedepankan hajat orang banyak, harus menjaga prinsip untuk melahirkan prioritas yang bijak dengan memperhatikan semua aspek sebagai kekuatan bangsa berdasarkan prisinsip kesatuan berbangsa, jangan suara hati diabaikan oleh ambisi sesaat atau demi kepentingan golongan maupun kelompok tertentu meraih keuntungan jangka pendek, yang berdampak pada kerugian jangka panjang
Mengambil jalan pintas dengan cara-cara ekstrim seringkali mengakibatkan kerusakan pada satu bangsa..!

*Staf LPM Sukma

Pages