Keindahan Alam dan Sejarah di Kaki Meratus


   Oleh: Ahmad Fauzi*

Gugusan pegunungan meratus yang menjulang dengan anggunnya tampak sombong pagi ini. Sejauh mata memandang hanya kabut yang menyelimuti kemolekan paku alam ini. Seakan-akan ia malu menampakkan kejantanannya. Jurang, lembah, ngarai dan gemericik air terdengar sahdu mengiringi langkah kaki kami menelusuri air terjun terindah di bumi Antaludin. Ya, air terjun Haratai Kecamatan Loksado Kab. HSS menjadi pilihan kami untuk mengisi liburan kali ini. Air terjun yang memiliki ketinggian kurang lebih 15 meter dari kejauhan terlihat angkuh, seakan-akan menantang kami dengan aura kewibawaannya. Air bening kehijauan tampak serasi menghiasi di sekitar jatuhnya air terjun. Suara burung dan binatang hutan bersahut-sahutan menyambut kedatangan kami, tidak ketinggalan percikan embun sejuk dari jatuhnya air terjun perlahan membasahi wajah kami, mungkin sebagai pertanda selamat datang. Kepenatan langsung sirna, di gantikan kecerian hati dibuai terpaan angin dan hawa sejuk pegunungan, pohon-pohon rindang, gemercik suara air dan nyanyian dedaunan bagaikan seroling anak gembala dan nyanyian para peri. Liburan kali ini sangat menyenangkan, berpetualang di alam bebas sambil menyaksikan keagungan ciptaan Tuhan. Destinasi wisata yang di sajikan bumi Hulu Sungai Selatan patut menjadi referinsi liburan anda. Keindahan alamnya mampu menghipnotis setiap mata yang memandang. Selain keindahan air terjun Haratai, Loksado juga terkenal dengan wisata sungainya yaitu Lanting Paring (banjar:bambo rafting). Wisata satu ini bisa menjadi alternatif tersendiri bagi anda yang suka tantangan untuk memacu adrenalin. Mengarungi derasnya sungai Amandit yang di penuhi bebatuan sambil menikmati hijaunya pegunungan meratus, pasti menjadi kenangan yang takkan terlupakan.

Selain menikmati wisata alam, kami juga mengunjungi saksi bisu sejarah Kalimantan Selatan, yaitu Monomen Proklamasi 17 Mei 1949 di desa Ni’ih Kecamatan Loksado. Tak lekang oleh waktu guratan tangan Pahlawan Nasional Jend Hasan Basri masih tampak kelihatan dan terokir indah di Monomen yang di cat warna langit. Terima kasih pahlawan karena jasa kalian kami bisa hidup bebas seperti ini. “Jangan pernah lupakan sejarah.” Tutur bung Karno.

Lengkap sudah perjalanan hari ini. Beranjak pulang kami mampir di warung penduduk sekitar untuk menyeduh kopi dan sebatang rokok.

*Pimpinan Umum di LPM Sukma

Pages