Dimana Pendidikan Kita di Hari Pendidikan?


    Oleh: Ali Makki*

Hari pendidikan nasional yang bertepatan pada tanggal 2 mei yang lalu merupakan hari dimana tokoh nasional yang sangat mencintai pendidikan lahir. hari pendidikan yang di sandarkan pada tokoh ini betapa pentingnya pendidikan bagi tokoh tersebut sehingga ia tidak gentar menghadapi panasnya matahari dan dan kotornya bumi. ki hajar dewantara, tokoh nasional yang melekat pada hari pendidikan karena kelahirannya semangat pendidikan tumbuh untuk mengangkat martabat bangsa ini.

Hari ini, 02 mei 2014 diperingatinya hari pendidikan nasional di berbagai daerah sebangai semangat baru tentang pentingnya pendidikan dan tegaknya negeri bermartabat. sudah berpuluh tahun indonesia merdeka dalam artian kemerdekaan dari penjajah hingga kini bangsa indonesia masih di pertanyakan kiprah pendidikannya. pada bulan yang lalu, dilaksanakannya UN di anggap sebagai jalan dalan pentrataan kecerdasan anak bangsa melalui standar kelulusan yang cukup tinggi dalam tatanan pendidikan masyarakat pedesaan.

Membaca pendidikan indonesia saat ini, perlu kiranya bapak pendidikan nasional menangis karena konsep pendidikan yang diperjuangkannya jauh dari jalan yang ditorehkan. dalam karyanya yang populer hingga saat ini yang menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia diantara adalah kalimat-kalimat filosofis seperti "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri hadayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan" menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini. Ki Hajar Dewantara pastilah berduka melihat pendidikan nasional yang di sematkan pada dirinya masih dipermasalahkan bahkan disalah gunakan sebagai bidang bisnis oleh dinas pendidikan.

Diketahui pada penyelanggaraan UN untuk tahun ini telah menelan anggaran sebesar 600 miliyar. bukan main biaya seperti itu bila di ukur terhadap hasil yang di peroleh nantinya. hasil pada saat pengumuman kelulusan di tetapkan sebagai standar lulus dari sekolah.

Tentu biaya sebesar itu tidaklah disayangkan jika output dari pendidikan memang tercapai. karena sebuah negeri yang bermartabat dilihat dari output pendidikannya. sekilas dari buruknya pendidikan nasional di dalam tatanan fasilitas dan pelayanannya yang terus mengundang perdebatan tentang perumusan serta sistem yang digunakan menjadikan miris jadi anak bangsa indonesia.

Seringkali dipertanyakan siapa yang disalahkan dalam pendidikan negeri ini? mestinya ini jadi pekerjaan serius seluruh anak bangsa. (masyarakat dan pemerintahan) yang setidaknya mengkaji ulang dari pendidikan ini dan semua element ikut serta merebut pendidikan yang berkarakter sebagaimana di inginkan oleh bapak pendidikan kita. yaitu memanusiakan manusia.

*Reporter LPM Sukma

Pages