Sampah dan Perilaku Konsumsi yang Berlebihan


        Oleh: Ahmad Fauzi*

Pernahkan anda berpikir tentang sampah ataupun perilaku konsumtif, dari mana datangnya sampah? dan kapan pertama kali anda menjadi sadar tentang sampah?
Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin merupakan kota berpenduduk terpadat di Kalimantan Selatan dan termasuk kota Besar di Indonesia.
Lajunya Pertumbuhan penduduk, urbanisasi dan pengalihan tanah pertanian menjadi tempat pemukiman warga. Menyebabkan dari 720 juta jiwa penduduk kota Banjarmasin,masalah sampah adalah prioritas yang paling utama selain masalah-masalah yang lainnya. Keberadaan sampah di kota Banjarmasin saat ini setiap harinya semakin meningkat, ditambah perkembangan jumlah penduduk, serta pola pikir masyarakat yang menginginkan kehidupan mewah dan berlebihan yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata, bermunculannnya berbagai perumahan, pusat perbelanjaan, tempat hiburan serta perilaku masyarakatnya akan melahirkan perilaku konsumtif. Ditambah lagi, seperti zaman sekarang dimana arus teknologi dan informasi berkembang dengan sangat cepat, membuat pergerakkan barang produksi juga semakin cepat, sehingga seakan-akan hasil produksi tersebut berlomba-lomba didalam pikiran kita untuk menarik perhatian, agar kita membeli produk tersebut. Dianggap sebagai faktor yang memberikan sumbangan besar terhadap meningkatnya jumlah sampah.
Menurut survey dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Banjarmasin pada tahun 2012 silam, warga kota Banjarmasin menghasilkan sampah 1.800 meter kubik per hari. Jumlah sampah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) setiap harinya 1.062 meter kubik, atau 338 ton dan dari volume sampah sebanyak itu, 41 persennya atau sekitar 200 ton masih tertimbun di mana-mana..
Pemerintah kota Banjarmasin sampai saat ini masih kesulitan mengatasi sampah di Banjarmasin. Sampah tersebut menjadi pemandangan yang kurang sedap bagi masyarakat kota Banjarmasin. Di beberapa tempat penampungan sementara (TPS), gunungan sampah semakin mengganggu masyarakat sekitar karena baunya yang tidak sedap. Selain itu tumpukan sampah yang terus menggunung menyebabkan bertambahnya racun dalam tanah, udara, laut, dan sungai, juga dalam tubuh kita
.Tidak tanggung-tanggung pemerintah kota (Pemkot) Banjarmasin pada tahun 2012 menganggarkan dana RP.2,6 milyar untuk pembangunan tiga lokasi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST), ketiga lokasi yang dipilih di antaranya dekat makam Pangeran Antasari Masjid Jamik Kecamatan Banjarmasin Utara.
Walaupun sekarang ada istilah bank sampah, sebagai salah satu upaya lainnya yang di lakukan pemerintah agar masyarakat membiasakan hidup bersih dan membuang sampah pada tempatnya. Kalau kita sebagai warga tetap terbiasa dengan perilaku konsumsi berlebihan. Maka, upaya itupun tidak akan berbuah manis.
Perilaku konsumsi yang berlebihan dapat membuat kita melupakan peran kita sebagai penjaga bumi atau dalam bahasa agama di sebut khalifah. Menjadi penjaga planet ini berarti membatasi kebiasaan konsumsi. Kita mengkonsumsi barang-barang setiap hari dengan makan, minum, bersih-bersih, bepergian, membeli barang baru, dan menggunakan sumber daya planet ini dengan berbagai cara. Semakin banyak kita mengkonsumsi, semakin banyak pula sampah yang kita hasilkan. Alangkah bijaknya kalau kita mengurangi pemakain tisu dan menggantinya dengan sapu tangan selain lebih ekonomis juga ramah lingkungan, tidak memakai plastik secara berlebihan serta menyediakan kantung belanja yang bisa di pakai berulang kali, mengurangi pembelian barang yang tidak terlalu di perlukan.
Kita harus bertanggung jawab untuk merawat planet ini, menjaganya, dan memandangnya sebagai pinjaman dari Sang Pencipta. Jadi, apapun yang kita lakukan pada planet ini merupakan cerminan dari apa yang kita lakukan pada diri kita sendiri. Semoga. Selamat Hari Bumi 22 April 2014.

* Pimpinan Umum di LPM Sukma